
MAKAM KESULTANAN PONTIANAK DI BATU LAYANG
Kompleks peristirahatan keluarga Kesultanan Pontianak—ruang ziarah, arsip silsilah, dan saksi sejarah kota di tepi Sungai Kapuas Besar.

Bebatuan besar di tepi Kapuas menjadi karakter geologis unik yang tidak dijumpai di sisi hilir lainnya.
“Ada batu, tapi tak ada gunung.”
Sebelum Habib Husein Al-Kadrie berangkat dari Trim, Hadhramaut, Yaman Selatan, ibundanya menyampaikan tiga petunjuk tentang zuriat. Salah satunya menjadi penanda lanskap yang kelak ditemukan di Batu Layang.
Zuriat berarti keturunan atau garis keluarga.
Syarif Abdurrahman ibn Habib Husein ibn Ahmad Al-Kadrie—pendiri Kesultanan Pontianak—menyiapkan lahan di tepi Kapuas Besar untuk dirinya, zuriat, dan keluarga kesultanan.
Area ini mula-mula turut menjadi tempat pemakaman Panglima Laskar Siak yang membantu Sultan Syarif Abdurrahman dalam peperangan melawan Sanggau.
Syarif Abdurrahman tiba di wilayah yang kini menjadi Kota Pontianak.
Tanah di tepi Sungai Kapuas Besar dipilih untuk menjadi kompleks pemakaman pendiri, zuriat, dan keluarga kesultanan.
Nicholas de Kloek, utusan VOC yang bertentangan dengan Sultan, menempatkan meriam untuk menutup lalu lintas dagang Pontianak dengan wilayah luar.
Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie wafat dan dimakamkan di posisi depan-tengah bangunan utama bersama permaisurinya.
Tata letak bangunan, bentuk mahkota, dan rupa tambak menyimpan pengetahuan tentang kedudukan, garis keturunan, serta identitas mereka yang dimakamkan.

Rumah beratap tiga tingkat berukuran 28 x 28 meter.
Makam Sultan Syarif Abdurrahman dan permaisurinya, Puteri Utin Chandramidi, berada di posisi depan-tengah bangunan utama.
Nisan sultan berbentuk mahkota. Keturunan langsung laki-laki memakai mahkota polos tanpa hiasan; keturunan perempuan memiliki bulatan kecoklatan pada mahkotanya.
Bentuk nisan di atas tambak membedakan jenis kelamin. Nisan bulat menyerupai gada menandai makam laki-laki.
Nisan berbentuk pipih menandai makam perempuan, sehingga silsilah dapat dibaca bersama tanda mahkota.
Tambak adalah peti makam berbentuk persegi panjang yang berada di atas permukaan tanah; nisan ditempatkan di bagian atasnya.
Kunjungan yang baik mengutamakan doa dan penghormatan, lalu membuka ruang untuk memahami arsitektur makam, silsilah, dan lanskap sungai.
Datang sebagai peziarah, menjaga ketenangan, dan memanjatkan doa di kompleks makam keluarga Kesultanan Pontianak.
Amati bangunan beratap tiga tingkat, bentuk mahkota, perbedaan nisan laki-laki dan perempuan, serta susunan tambak.
Setelah berkunjung, nikmati minuman dan makanan kecil dari deretan warung dekat Sungai Kapuas.

Ruang singgah sederhana untuk peziarah dan pengunjung.
Batu Layang bukan sekadar tujuan rekreasi. Setiap unsur—dari atap, posisi makam, hingga tanda pada nisan—adalah bagian dari arsip hidup Kesultanan Pontianak.
“Utamakan ziarah; biarkan sejarah hadir tanpa mengusik kesakralan.”
Akses singkat dari Tugu Khatulistiwa membawa pengunjung ke ruang pusaka yang menuntut sikap tenang, pakaian sopan, dan penghormatan.
Berkendara melalui Jalan Khatulistiwa sekitar 5 menit ke arah utara.
Saat gapura kuning terlihat di kiri jalan, perlambat kendaraan.
Belok masuk dan lanjutkan sekitar 200 meter menuju kompleks.

Imbauan berlaku bagi seluruh wisatawan, khususnya pengunjung mancanegara dan non-muslim.
Pilih pakaian yang sopan, longgar, dan tertutup agar nyaman selama berada di kompleks.
Jaga marwah situs pusaka sejarah kerajaan Islam dan hormati kesakralan area makam.
Dahulukan doa dan pengamatan yang tenang; jangan mengganggu peziarah lain.